Perpustakaan

Kembali ke katalog
Kode Buku : 01932
Call Number : 813 LIY a
Jumlah : 3
Sisa : 0
Judul Buku : Ayahku (bukan) Pembohong
Judul Asli :
Kategori : Sastra
Kota Terbit : Depok
Penerbit : 000370 Sabakgrip
ISBN : 9786238829651
Tahun Trebit : 2024
Desk Fisik : Cet.8,300hlm.
Ciri Lain :
Dimensi : 20cm.
Bibliografi :
Bahasa : Indonesia
Anak Judul :
Pengarang : Tere Liye
Edisi :
Seri :
Catatan :
Format : Buku
Jenis :
Ringkasan : Dam, seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng ayahnya, namun saat dewasa ia meragukan kebenaran cerita tersebut dan merasa kebencian karena ayahnya tidak mengungkapkan kebenaran tentang penyakit ibunya yang akhirnya meninggal dunia. Setelah ayahnya meninggal, Dam baru menyadari bahwa semua cerita ayahnya, termasuk tokoh-tokoh seperti Suku Penguasa Angin dan Si Nomor Sepuluh, adalah nyata. Kejadian di pemakaman ayahnya menjadi bukti bahwa ayahnya bukanlah pembohong, serta pesan-pesan yang disampaikan ayahnya tentang kehidupan dan kebahagiaan. Ringkasan Cerita Masa Kecil Dam: Dam dibesarkan oleh ayahnya dengan berbagai dongeng tentang pengalaman masa muda ayahnya, termasuk cerita tentang Suku Penguasa Angin dengan sembilan formasi layang-layangnya. Dam awalnya mempercayai dongeng-dongeng tersebut. Keraguan Dam Dewasa: Ketika tumbuh dewasa, Dam mulai meragukan cerita-cerita ayahnya, menganggapnya sebagai kebohongan dan cerita bohong yang tidak mungkin terjadi. Keraguan ini semakin besar setelah ibunya meninggal dunia, yang dianggap Dam sebagai tragedi dan kesedihan karena ayahnya tidak mengungkapkan kebenaran mengenai penyakit ibunya. Pencarian Kebenaran: Dam berusaha mencari kebenaran cerita-cerita ayahnya melalui internet dan buku, namun tidak menemukan bukti yang mendukungnya. Namun, ia menemukan sebuah buku di perpustakaan Akademi Gajah yang ternyata berisi kisah yang sama dengan cerita ayahnya, semakin membuatnya penasaran. Penyadaran: Pada akhir hayat ayahnya, dua peristiwa unik terjadi: sembilan formasi layang-layang besar milik Suku Penguasa Angin muncul di langit, dan Si Nomor Sepuluh serta Sang Kapten (sahabat ayahnya) datang melayat. Kejadian ini menyadarkan Dam bahwa semua cerita ayahnya adalah nyata dan ayahnya bukanlah seorang pembohong. Pesan Moral: Novel ini mengajarkan tentang pentingnya menghargai orang tua, menerima mereka apa adanya, dan menyadari bahwa apa yang terlihat tidak masuk akal belum tentu tidak terjadi. Novel ini juga menekankan bahwa kebahagiaan berasal dari hati dan bahwa kesederhanaan hidup dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.